Pages

2.03.2013

Pramuka Pandega

Mahasiswa berintegrasi dengan masyarakat
Penduduk kampus (Perguruan Tinggi) adalah didominasi oleh mahasiswa. Tantangan masahasiswa untuk selalu terjun ke masyrakat selalu terngiang dalam telinga. Mempelajari ilmu sesuai dengan disiplin ilmu. Berbagai pembelajaran, motivasi, serta pembinaan dari Dosen. Berbagai tipe mahasiswa pun juga menghiasi dunia kemahasiswaan. Memilih berada di dekat buku, rumah, dan tugas, hingga ada yang memilih mengepalkan tangan dan berteriak di jalanan. Menuntut suatu kepada para pemimpin. Hingga terkadang berujung pada perusakan sarana dan prasarana umum. Pelontaran kata-kata yang tidak harus dilontarkan pun keluar dari mulut. Yang merasa lebih tua pun juga tidak mau kalah, hingga membalas omongan atau bahkan tindakan.
Memang hal tersebut tidak boleh kita samaratakan atara kelompok demonstran satu dengan yang lain, namun hal tersebut sangat perlu kita pelajari. Di satu sisi sebagian orang masih berusaha memutar otak dan memeras keringat untuk membantu masyrakat menengah ke bawah. Bersama dengan msyarakat, merasakan kehidupan yang mungkin belum bisasa kita rasakan.
Perlu kita ketahui bersama, ketika kita bersua dengan masyarakat, hal-hal yang dipertanyakan oleh mereka adalah hal-hal yang dasar. Sebagai contoh Petani, mereka bertanya, bagaimana cara mencegah hama di sawah? Bagaimana cara ikan biar cepat besar? Bagaimana caranya menyampakan aspirasi kami para petani? Bagaimana caranya kami menyampaikannya ke Pemerintah? Serta pertanyaan-pertanyaan lain yang terkadang sering tidak kita duga.
Sebagai mahasiswa, tentunya kita harus berusaha untuk membantu. Jangan berdalih itu bukan bidang saya, itu bukan kemampuan saya. Karena masyarakat tidak mau tahu, setahu mereka mahasiswa adalah mahluk intelektual dan mampu segalanya. Untuk itu kita harus pandai mengaturnya. Menghadapi masyarakat adalah menghadapi berbagai karakter orang, dan berbagai pemikiran. Jangan mengharap pemikiran mereka semua sepadan dengan kita. Tidak semua masyarakat mengerti dengan bahasa-bahasa yang biasa kita pakai di dunia mahasiswa.
Gambaran pengelolaan masyarakat adalah seperti di organisasi
Berbagai permasalahan dan tantangan ketika berintegrasi dengan masyarakat adalah hal yang wajar. Tergantung dari kita dalam menghadapinya. Bisa jadi hal tersebut dapat meningkatkan kedewasaan diri kita. Selain itu, kita akan bertambah ilmunya, karena dengan banyaknya pertanyaan dan keperluan dari masyarakat yang tidak kita ketahui akan menjadi tantangan bagi kita untuk mencari tahu. Secara tidak langsung, kita pun akan menjadi semakin pintar.
Bagi sebagian teman-teman aktifis kampus, tentunya berhubungan dengan orang lain bukan hal yang tabu. Memimpin dan mengkoordinasikan tim adalah kemampuanya. Bergelut dengan emosi atau mimik orang lain adalah seni yang didapat. Begitulah gambaran kecil kehidupan di masyarakat. Kemampuan beretorika mutlak sangat kita perlukan.  Selain itu kemampuan diri untuk bisa tegas dan tetap memberikan motivasi juga diperlukan untuk menjaga kelompok atau tim bergerak sesuai visi. Tidak hanya bertindak tegas, namun bagaimana caranya bias memotivasi orang lain.
Pramuka bisa dijadikan sebagai referensi solusi
Pramuka adalah salah satu wadah pembinaan watak dan karakter pemuda Indonesia. Tidak hanya pembinaan pada jenjang tertentu. Pembinaan pramuka adalah sepanjang waktu. Mulai dari kecil kita sudah selalu dibina. Mulai dari siaga dengan tingkatan pembinaan Siaga Mula, Siaga Bantu, dan Siaga Tata. Selanjutnya akan dibina melalui Penggalang (Ramu, Rakit, dan Terap). Di tingkat SMA kita akan memasuki jenjang Panegak (Bantara dan Laksana). Tidak berhenti di situ saja, di dunia kampus pun juga masih dilakukan pembinaan, melalui jenjang Kepandegaan. Dalam hal ini, Racana Diponegoro (Pramuka Undip) memiliki 3 jenjang kepandegaan, yakni Pandega Muda, Pandega Madya dan Pandega Bhakti.
Pembinaan yang tanpa putus ini adalah pembinaan yang sesungguhnya diperlukan. Orang dewasa dalam Pramuka pun turut terlibat untuk membina orang muda. Kekeluargaan dan persaudaraan, antara Pramuka dewasa dan pramuka muda turut menghiasi organisasi kepramukaan. Hal tersebut menghasilkan seorang pramuka yang bukan hanya punya kemampuan nyata di lapangan, namun juga menghasilkan jiwa yang takwa kepada Tuhan YME, saling menolong kepada sesama dan peduli terhadap lingkungan.
a. Pramuka punya skil terjun ke lapangan
Kemampuan tali temali, sandi, haling rintang, orientasi medan, hidup di segala medan, hingga kemampuan EO (event organizer), administrasi, hingga kemampuan birokrasi adalah konsekuensi yang akan dimiliki oleh seorang Pramuka. Tanpa kita minta, dengan dasar ketekunan dan kedisiplinan, maka kensekuensi-konsekuensi tersebut pasti akan kita miliki
b. Lebih dasar lagi, pramuka mempunyai jiwa yang selalu menuntun dan menuntut untuk selalu dekat dengan masyarakat. Bisa kita lihat juga dalam Kode Etik Kehormatan Pramuka, yakni tri satya, lebih tepatnya Tri Satya yang ke 2 yang berbunyi “Menolong sesama hidup, dan ikut serta membangun masyarakat”. Inilah yang selalu dibutuhkan oleh Negara ini. Yakni pemuda yang memiliki jiwa peka serta kemampuan untuk mengaplikasikanya terhadap dunia nyata (dunia kemasyarakatan).
Seperti yang disadur dari Situs Resmi Wakil Presiden Republik Indonesia, Wapres menilai sudah ada kemajuan dan cukup komprehensif. “Lagi-lagi komitmen kita dituntut. Taruhannya besar jika anak-anak muda kita dibiarkan,” ujar Wapres. Tujuan revitalisasi Gerakan Pramuka adalah dalam bentuk gerakan. Upaya untuk merangkul semua pihak, dan tujuan akhir adalah pembinaan karakter untuk generasi muda. “Strategi dasarnya benar-benar harus dipikirkan secara matang,” tegas Wapres.
Mulailah untuk mandiri dan berwirausaha
Kemampuan mahasiswa dalam menangkap peluang kerja dengan baik seharusnya adalah mutlak dimiliki oleh setiap mahasiswa. Hal ini ditujukan dengan banyaknya lulusan perguruan tinggi yang tidak siap dalam menghadapi dunia paska Kampus. Seperti yang dikutip dari Kompas.com “sekitar 60 persen lulusan perguruan tinggi menganggur”. Hal ini tentunya menjadi fenomena yang sangat tidak diinginkan. Dimana semangat beribu-ribu orang yang bergelut untuk diterima di Perguruan Tinggi tidak sepadan dengan semangat untuk bergelut di dunia paska kampus.
Tentunya persiapan dalam menghadapi dunia paska kampus harus diperhatikan semenjak berada di dunia kampus. Hal ini agar bisa memaksa diri kita dan selanjutnya menjadi kebiasaan untuk selalu mandiri. Berwirausaha adalah salah satu parameter kemandirian. Setelah kita tilik lebih lanjut lagi, ternyata pramuka juga dididik untuk selalu mandiri. Mulai dari menabung, cara memanfaakan sumber daya yang ada, peka terhadap lingkungan, dan pada akhirnya bisa menghasilkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan untuk kemandirian pribadi maupun orang lain. Mungkin kita boleh bekerja terlebih dahulu pada suatu perusahaan atau instansi untuk belajar manajemen dan berbagai cara menjalankan serta memimpin suatu perusahaan. Namun, tetaplah mempunyai visi untuk tetap berwirausaha.
Selain itu, kita juga harus jeli dalam melihat prospek yang ada di berbagai tempat/daerah di Indonesia. Kita harus membuka wawasan ke luar daerah, bahkan di seluruh pulau di Indonesia ini. Janganlah takut untuk berada di daerah yang jauh dari keluarga kita. Beranikan diri untuk merantau melihat dan berekspresi di semua daerah yang ada di bumi Pertiwi ini. Masih banyak yang masih bisa kita berdayakan di negeri ini. Bukan hanya tugas seorang pramuka, mahasiswa, dosen, professor, ataupun pemerintah, namun hal ini adalah tugas kita bersama. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berlatih untuk selalu berintegrasi, berhubungan, berkomunikasi, berfikir, dan bekerja bersama. Bukan hanya warga kampus dan pejabat pemerintah yang selalu berada di atas panggung maupun di balik meja. Namun, yang selalu mendengarkan suara rakyat. Semoga hal ini bisa selalu diridhoi oleh Allah SWT.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

"Pramuka pribadi BangsaKu"